Rupiah Disebut Hancur karena Perang? Purbaya Beberkan Fakta dan Data ke Presiden Prabowo
Pemerintah menegaskan bahwa kondisi nilai tukar rupiah masih berada dalam situasi yang relatif stabil meskipun dunia menghadapi ketegangan geopolitik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa rupiah mengalami kehancuran akibat konflik internasional.
Penjelasan tersebut ia sampaikan saat memberikan laporan kondisi ekonomi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta. Dalam pemaparannya, Purbaya menyampaikan sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya menunjukkan ketahanan rupiah terhadap tekanan global.
Depresiasi Rupiah Dinilai Sangat Kecil
Purbaya menilai pelemahan rupiah yang terjadi akibat dinamika geopolitik global sebenarnya masih dalam batas wajar. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data historis, setiap kali terjadi konflik atau perang di tingkat global, nilai tukar rupiah rata-rata hanya melemah sekitar 0,3 persen.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi gejolak internasional. Ia juga menilai pandangan yang menyebut rupiah “hancur” tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di pasar keuangan.
Dalam forum tersebut, Purbaya menegaskan bahwa pelaku pasar yang benar-benar menanamkan modal di Indonesia justru melihat situasi ekonomi secara lebih objektif. Ia menilai investor yang memahami data cenderung tetap percaya pada stabilitas ekonomi nasional.
Indikator Risiko Negara Tetap Stabil
Selain memaparkan data depresiasi rupiah, Purbaya juga menunjukkan indikator risiko negara yang masih terkendali. Salah satu indikator yang ia soroti adalah premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor lima tahun.
CDS merupakan indikator yang sering digunakan investor global untuk mengukur risiko kredit suatu negara. Menurut Purbaya, nilai CDS Indonesia masih berada pada level yang relatif stabil, sehingga menunjukkan kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi nasional.
Ia juga menyoroti selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dibandingkan dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Data tersebut menunjukkan perubahan yang sangat kecil dalam beberapa waktu terakhir.
Pada awal 2025, spread antara SBN dan US Treasury tercatat sekitar 240 basis poin. Sementara itu, angka terbaru hanya meningkat menjadi sekitar 243 basis poin. Kenaikan yang sangat terbatas ini dinilai menunjukkan bahwa risiko investasi di Indonesia masih terkendali.
Arus Modal Masih Mengalir ke Indonesia
Dalam laporannya kepada Presiden, Purbaya juga menyinggung pergerakan arus modal asing di pasar keuangan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa investor global masih menunjukkan minat terhadap instrumen keuangan domestik.
Pada Maret 2026 misalnya, pasar Surat Berharga Negara mengalami arus keluar sekitar Rp0,7 triliun. Namun pada saat yang sama, terdapat arus masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sekitar Rp2,2 triliun.
Selain itu, pasar saham juga mencatat arus dana masuk sekitar Rp2,2 triliun. Menurut Purbaya, data tersebut menunjukkan bahwa investor masih menaruh kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Ia menilai investor yang benar-benar menanamkan dana akan melihat kondisi fundamental ekonomi secara menyeluruh, bukan hanya mengikuti sentimen jangka pendek di pasar.
Ketahanan Ekonomi Jadi Faktor Utama
Purbaya menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menilai berbagai indikator makroekonomi menunjukkan fondasi ekonomi nasional masih kuat.
Menurutnya, gejolak global memang dapat memengaruhi pergerakan mata uang, termasuk rupiah. Namun dampaknya tidak selalu sebesar yang sering dibicarakan di ruang publik atau media sosial.
Pemerintah, kata Purbaya, terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Upaya ini dilakukan agar Indonesia tetap mampu menghadapi berbagai risiko eksternal.
Pemerintah Optimistis terhadap Stabilitas Rupiah
Dengan berbagai indikator yang masih terkendali, pemerintah menilai kondisi rupiah masih berada dalam jalur yang sehat. Purbaya berharap masyarakat dan pelaku pasar dapat melihat situasi ekonomi berdasarkan data yang ada.
Ia menegaskan bahwa kepercayaan investor menjadi salah satu faktor penting yang menjaga stabilitas pasar keuangan Indonesia. Selama fundamental ekonomi tetap kuat, tekanan eksternal diperkirakan tidak akan berdampak besar terhadap perekonomian nasional.

