H-3 Lebaran 2026, Pelabuhan Merak Sepi, Pengusaha Kapal Keluhkan Minimnya Penumpang
Situasi arus mudik di Pelabuhan Merak, Banten, pada H-3 Lebaran 2026 justru menunjukkan kondisi yang tidak biasa. Alih-alih dipadati pemudik seperti tahun-tahun sebelumnya, aktivitas penyeberangan di pelabuhan utama menuju Sumatra itu terpantau relatif sepi. Kondisi ini memicu keluhan dari para pengusaha kapal yang mengalami penurunan muatan secara signifikan.
Berdasarkan laporan terbaru, sejumlah kapal penyeberangan tidak beroperasi secara optimal karena minimnya kendaraan dan penumpang yang naik. Bahkan, sebagian kapal terpaksa berlayar tanpa muatan penuh, sehingga berdampak langsung pada pendapatan operator.
Aktivitas Pelabuhan Masih Lengang
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa hingga H-3 Lebaran, volume kendaraan yang memasuki kawasan Pelabuhan Merak masih belum mengalami lonjakan berarti. Area buffer zone atau zona tunggu kendaraan terlihat lengang, dengan banyak lajur yang belum terisi.
Kondisi ini berbeda dengan prediksi sebelumnya yang memperkirakan puncak arus mudik akan terjadi pada periode H-3 hingga H-2 Lebaran. Namun kenyataannya, peningkatan jumlah pemudik belum terlihat signifikan pada waktu tersebut.
Minimnya kendaraan yang menyeberang membuat operasional kapal tidak berjalan maksimal. Beberapa kapal bahkan harus tetap beroperasi meski jumlah penumpang jauh di bawah kapasitas.
Pengusaha Kapal Alami Kerugian
Para pengusaha kapal mengeluhkan kondisi ini karena berdampak langsung pada biaya operasional. Dalam operasional penyeberangan, kapal tetap harus berjalan sesuai jadwal meskipun muatan tidak penuh.
Biaya bahan bakar, perawatan kapal, hingga gaji kru tetap harus dikeluarkan, sehingga operator berpotensi mengalami kerugian dalam setiap perjalanan.
Keluhan ini juga berkaitan dengan kebijakan pembatasan kendaraan logistik yang diterapkan pemerintah selama arus mudik. Pembatasan tersebut dinilai memengaruhi distribusi kendaraan yang biasanya menjadi salah satu sumber muatan utama kapal penyeberangan.
Pengusaha kapal berharap kebijakan tersebut dapat diterapkan secara lebih fleksibel agar tidak merugikan sektor transportasi penyeberangan.
Kapasitas Besar Belum Termanfaatkan
Ironisnya, kondisi sepi terjadi di tengah kesiapan armada kapal yang cukup besar. Banyak kapal telah disiapkan untuk menghadapi lonjakan pemudik, namun tidak semuanya dapat dimanfaatkan secara optimal.
Selain faktor minimnya penumpang, keterbatasan infrastruktur seperti dermaga juga menjadi kendala tersendiri. Dari puluhan kapal yang tersedia, hanya sebagian yang dapat beroperasi secara maksimal karena keterbatasan fasilitas sandar.
Hal ini membuat distribusi layanan tidak merata dan berpotensi menimbulkan inefisiensi dalam operasional.
Perubahan Pola Perjalanan Pemudik
Sejumlah pihak menilai kondisi sepi di Pelabuhan Merak juga dipengaruhi oleh perubahan pola perjalanan masyarakat. Pemudik kini cenderung memilih berangkat lebih awal untuk menghindari kepadatan, atau menggunakan alternatif transportasi lain seperti jalur darat melalui tol Trans-Jawa.
Selain itu, kebijakan rekayasa lalu lintas seperti ganjil genap dan sistem one way di jalan tol turut memengaruhi distribusi arus kendaraan menuju pelabuhan.
Akibatnya, lonjakan pemudik tidak terjadi secara bersamaan, melainkan tersebar dalam beberapa hari sebelum puncak Lebaran.
Antisipasi Lonjakan Mendadak
Meski saat ini masih relatif sepi, pihak terkait tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan mendadak dalam waktu dekat. Puncak arus mudik diperkirakan masih dapat terjadi dalam rentang waktu H-2 hingga H-1 Lebaran.
Operator kapal dan otoritas pelabuhan tetap menyiapkan seluruh armada untuk menghadapi potensi peningkatan jumlah penumpang secara tiba-tiba.
Langkah ini penting untuk memastikan pelayanan tetap berjalan lancar dan menghindari penumpukan kendaraan di pelabuhan.
Harapan Perbaikan Kebijakan
Pengusaha kapal berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan yang berdampak pada distribusi penumpang dan kendaraan. Mereka menilai koordinasi yang lebih baik diperlukan agar kapasitas kapal yang besar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Selain itu, fleksibilitas dalam pengaturan kendaraan logistik dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kelancaran arus mudik dan keberlangsungan usaha transportasi penyeberangan.
Dengan perbaikan kebijakan dan koordinasi yang lebih baik, sektor penyeberangan diharapkan tetap dapat berkontribusi secara maksimal dalam mendukung mobilitas masyarakat selama musim mudik Lebaran.

