Bencana Hidrometeorologi Terjang 3 Provinsi Saat Idulfitri 1447 H, Ribuan Warga Terdampak
JAKARTA — Bencana hidrometeorologi saat Idulfitri 1447 H melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya tiga provinsi terdampak banjir dan cuaca ekstrem selama periode Lebaran 2026.
Fenomena ini dipicu hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi hampir bersamaan di beberapa daerah, menandai tingginya potensi bencana hidrometeorologi saat Idulfitri 1447 H.
Jawa Barat: Cuaca Ekstrem Rusak Puluhan Rumah
Di Jawa Barat, cuaca ekstrem melanda Kabupaten Cianjur pada 20 Maret 2026. Hujan deras dan angin kencang merusak sedikitnya 18 rumah warga di empat kecamatan.
Sebanyak 18 kepala keluarga terdampak dalam kejadian tersebut. Penanganan difokuskan pada evakuasi pohon tumbang serta perbaikan atap rumah yang rusak akibat terpaan angin kencang.
Masih di wilayah Jawa Barat, banjir juga terjadi di Kota Depok, tepatnya di Kecamatan Cimanggis. Sebanyak 685 kepala keluarga terdampak, dengan 17 warga terpaksa mengungsi.
Total rumah yang terdampak mencapai sekitar 691 unit sebelum air berangsur surut.
Jawa Timur: Banjir Mojokerto Picu Pengungsian
Bencana hidrometeorologi saat Idulfitri 1447 H juga melanda Jawa Timur. Banjir terjadi di Kabupaten Mojokerto dan memaksa sekitar 275 warga mengungsi.
Selain itu, sebanyak 146 rumah terdampak, satu tanggul dilaporkan jebol, dan lebih dari 20 hektare lahan persawahan ikut terendam.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah akses jalan, mengganggu mobilitas warga selama periode Lebaran.
Maluku: Ratusan KK Terdampak Banjir
Di wilayah timur Indonesia, banjir melanda Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku.
Sedikitnya 177 kepala keluarga terdampak akibat luapan air yang merendam permukiman warga di beberapa desa.
Meski demikian, kondisi terkini dilaporkan mulai membaik dengan air yang berangsur surut.
Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama
BNPB menyebut rangkaian kejadian ini merupakan bagian dari bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem.
BMKG sebelumnya juga telah memperingatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang selama periode Idulfitri 1447 H, yang berisiko memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya mobilitas masyarakat selama Lebaran, yang membuat dampak bencana terasa lebih luas.
Pemerintah Minta Warga Tetap Waspada
Di tengah situasi ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor.
Masyarakat diminta untuk terus memantau informasi cuaca terbaru serta mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan.
Selain itu, kesiapan individu—mulai dari kondisi tempat tinggal hingga rencana evakuasi—dinilai menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko.
Ancaman Masih Berlanjut Pasca Lebaran
Meski sebagian wilayah mulai menunjukkan kondisi membaik, ancaman bencana hidrometeorologi diperkirakan masih akan berlanjut seiring tingginya curah hujan di sejumlah daerah.
Pemerintah menegaskan bahwa upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan, tidak hanya saat puncak libur Lebaran, tetapi juga setelahnya.
Bencana hidrometeorologi saat Idulfitri 1447 H menjadi pengingat bahwa faktor cuaca masih menjadi salah satu risiko utama yang harus diantisipasi masyarakat Indonesia setiap tahunnya.
