bencana alamBeritaPeristiwa

Tragedi Pembersih Kaca Apartemen di Surabaya: Seorang Pekerja Tewas Diterjang Badai, Rekan Selamat

Surabaya, Jawa Timur — Suasana hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Surabaya pada Senin (2/3/2026) sore berubah menjadi peristiwa tragis bagi dua pekerja pembersih kaca sebuah gedung bertingkat. Satu di antara mereka tewas setelah tergantung dan terombang-ambing di gondola (perancah gantung) ketika badai melanda kawasan Pakuwon Indah. Sementara seorang rekannya berhasil diselamatkan dan mendapatkan perawatan medis.

Kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya keselamatan kerja di ketinggian, khususnya saat cuaca ekstrem melanda, serta tantangan yang dihadapi pekerja di sektor konstruksi dan layanan gedung tinggi di tengah perubahan dinamika cuaca.


Peristiwa dan Kronologi Insiden

Peristiwa tragis berlangsung sekitar pukul 14.12–14.30 WIB saat hujan deras disertai angin kencang tiba-tiba mengguyur wilayah Surabaya Barat, terutama kawasan Pakuwon Indah yang menjadi lokasi banyak hunian menara tinggi. Dua pekerja pembersih kaca tengah menjalankan tugas rutin mereka menggunakan gondola atau suspended scaffolding di lantai sekitar 26 apartemen saat kejadian terjadi.

Menurut keterangan Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya, M. Rokhim, hujan disertai angin kuat yang menghempas gondola membuat alat tersebut kehilangan stabilitas. Akibatnya, salah satu pekerja yang tergantung di gondola mengalami kondisi paling fatal setelah terombang-ambing dan beberapa kali menghantam dinding bangunan.

Korban yang meninggal kemudian diidentifikasi sebagai Edy Suparno (51), warga Tambak Wedi Baru, Surabaya. Tubuhnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah tergantung di alat tersebut, sementara rekannya yang bernama Ribut Budiyanto (53) selamat dengan luka-luka dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan lanjut di RS William Booth.


Penyebab Insiden dalam Konteks Cuaca Ekstrem

Insiden ini terjadi di tengah fenomena cuaca ekstrem yang memicu hujan deras dan angin kencang di wilayah Surabaya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda sebelumnya telah mencatat adanya potensi cuaca ekstrem yang disebabkan oleh pembentukan awan cumulonimbus yang berkembang cepat, membawa hujan intens dan hembusan angin kuat di siang hingga sore hari.

Cuaca ekstrem ini bukan hanya berdampak pada kegiatan konstruksi atau pekerjaan eksternal semata, tetapi juga menyebabkan pohon-pohon tumbang di banyak titik kota, mengganggu lalu lintas dan kondisi lingkungan umum. Insiden pekerja gondola terseret badai merupakan contoh nyata bagaimana cuaca tak terduga bisa memberikan dampak fatal pada pekerjaan yang dilakukan di ketinggian.


Proses Evakuasi yang Menegangkan

Tim Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Surabaya bersama aparat kepolisian dan tim gabungan segera merespons laporan kejadian. Evakuasi berlangsung selama beberapa jam, dengan hambatan utama gangguan cuaca dan posisi korban yang berada di ketinggian sekitar lantai 26.

Evakuasi tersebut memakan waktu hampir tiga jam, di mana anggota tim harus membuka jendela apartemen untuk menurunkan gondola beserta korban yang tersangkut tali. Proses ini dijalankan dengan hati-hati untuk memastikan keselamatan petugas dan menghindari potensi kecelakaan tambahan.

Upaya penyelamatan akhirnya berhasil menurunkan gondola dan membawa korban yang selamat ke permukaan, namun upaya menyelamatkan Edy Suparno yang tergantung tidak dapat dilakukan tepat waktu.


Tinjauan Ahli Tentang Risiko Pekerjaan di Ketinggian

Kecelakaan tragis ini juga memicu diskusi lebih luas tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan kerja yang mengharuskan pekerja berada di ketinggian, seperti membersihkan kaca gedung tinggi. Para ahli K3 menekankan bahwa prosedur langkah berhati-hati dan penilaian risiko cuaca harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam perencanaan kerja di luar ruangan.

Menurut analis K3, pekerjaan di gondola atau suspended scaffolding merupakan salah satu aktivitas yang memiliki risiko tinggi, terutama jika dilakukan tanpa penghentian saat kondisi angin atau hujan tak bersahabat. Penting bagi manajemen perusahaan dan kontraktor untuk memiliki sistem pemantauan cuaca, serta kuasa untuk menghentikan operasi bila diperlukan demi keselamatan pekerja.

Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (personal protective equipment, PPE) seperti harness keselamatan, helm, dan alat komunikasi darurat merupakan langkah wajib, namun tidak sepenuhnya cukup jika cuaca ekstrem tiba tanpa peringatan lebih awal.


Dampak Sosial dan Respon Publik

Insiden ini mengundang simpati luas dari masyarakat Surabaya dan netizen yang menyaksikan video peristiwa tersebut beredar di media sosial. Banyak warga menyoroti pentingnya perbaikan prosedur keselamatan kerja serta perlunya pelatihan lebih intensif bagi pekerja yang melaksanakan tugas di ketinggian.

Tidak sedikit pula warganet yang menekankan bahwa perusahaan harus menunda pekerjaan seperti itu saat kondisi cuaca sudah memperlihatkan tanda-tanda buruk, terutama ketika hujan disertai angin kencang yang bisa meningkat secara tiba-tiba. Komentar-komentar ini mencerminkan kepedulian terhadap keselamatan tenaga kerja yang sering kali berada di posisi berisiko tinggi.


Komentar Pihak Berwenang

Pihak Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya menegaskan bahwa faktor cuaca menjadi penyebab utama insiden tersebut, di mana angin kencang membuat gondola berayun hebat dan kehilangan kendali, sehingga salah satu pekerja terpental dari posisi seharusnya. Namun investigasi lebih lanjut akan dilakukan untuk mengetahui apakah apa prosedur keselamatan telah dipatuhi sebelum pekerjaan dilakukan serta apakah ada kelalaian teknis pada peralatan yang digunakan.

M. Rokhim menyatakan bahwa fokus selanjutnya adalah memberikan dukungan kepada keluarga korban serta memastikan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia juga mengingatkan bahwa cuaca ekstrem bisa datang dengan cepat dan tanpa banyak tanda, sehingga kesiagaan adalah kunci.


Pesan untuk Masyarakat dan Pekerja

Pakar keselamatan kerja mengimbau para pekerja serta perusahaan yang memiliki kegiatan di ketinggian untuk:

  • Menghentikan sementara pekerjaan jika peringatan cuaca buruk sudah dikeluarkan.
  • Menggunakan alat keselamatan yang standar dan memastikan pemeriksaan rutin terhadap peralatan.
  • Menyediakan pelatihan kesiapsiagaan cuaca dan prosedur evakuasi pada seluruh tenaga kerja.
  • Selalu memantau informasi peringatan dari BMKG dan pihak berwenang sebelum memulai aktivitas di luar ruangan.

Kesimpulan

Insiden tragis yang menimpa seorang pembersih kaca apartemen di Surabaya menjadi pengingat keras bahwa cuaca ekstrem — seperti hujan deras disertai angin kencang — dapat berujung fatal ketika berlangsung di tengah pekerjaan berisiko tinggi seperti penggunaan gondola pada gedung bertingkat. Dalam kejadian ini, satu pekerja tewas setelah tergantung dan terbentur dinding gedung di lantai 26, sementara rekannya selamat dan dirawat.

Peristiwa ini bukan hanya duka bagi keluarga dan rekan kerja korban, tetapi juga momentum bagi seluruh industri untuk mengevaluasi lebih jauh praktik keselamatan kerja, pemantauan cuaca, dan penghentian operasional saat kondisi tidak aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *