Kenangan Terakhir Santri 12 Tahun di Pesantren Sebelum Meninggal, Diduga Korban Penganiayaan Ibu Tiri di Sukabumi
Seorang santri berusia 12 tahun di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi luka bakar, dan kasusnya saat ini diduga kuat berkaitan dengan tindakan penganiayaan oleh ibu tirinya sendiri. Korban, yang dikenal sebagai anak yang santun dan berdedikasi dalam menuntut ilmu agama, meninggalkan banyak kenangan pilu bagi keluarga, guru, dan teman-temannya.
Anak laki-laki berinisial NS itu bernafas terakhir di RSUD Jampangkulon pada Kamis, 19 Februari 2026, setelah sebelumnya dilarikan dalam keadaan kritis dengan luka serius di sekujur tubuhnya. Hingga sekarang, penyebab pasti luka tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian, sementara keluarga dan lingkungan pesantren terus berharap kebenaran segera terungkap.
Kenangan Terakhir di Pesantren
NS merupakan santri kelas 1 di sebuah pondok pesantren di daerah itu. Pimpinan pesantren, Abdurrahman, mengenang almarhum sebagai siswa yang aktif, sopan, dan humoris. Kepergian anak tersebut meninggalkan kesedihan mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi para guru dan teman-teman santri yang mengenalnya sebagai pribadi yang penuh tawa.
Pertemuan terakhir dengan pihak pondok terjadi pada awal Februari, ketika para santri dipulangkan sementara karena renovasi asrama. Pada waktu itu, kondisi NS masih sehat dan riang. Namun dua minggu setelahnya, kabar tragis datang saat korban dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi tubuh yang mengkhawatirkan.
Momen Paling Membekas
Sebelum kembali ke pondok pesantren, ayah NS sempat memberikan uang saku senilai Rp50.000 kepada putranya sebagai bekal belajar. Momen sederhana itu kini menjadi kenangan terakhir yang tak terlupakan bagi sang ayah. Anwar Satibi, ayah korban, menyatakan NS sangat bahagia menerima uang tersebut dan bersemangat kembali menuntut ilmu.
Dalam rekaman video yang viral di media sosial, NS disebut sempat menyebut “mamah” kepada penyidik saat kondisi kritis di ruang IGD, yang kemudian memicu spekulasi dan kemarahan publik mengenai keterlibatan ibu tirinya dalam dugaan penganiayaan tersebut.
Ayah korban juga mengungkapkan cita-cita putranya yang mulia. Berbeda dengan anak seusianya, NS ingin menjadi seorang kiai dan memperdalam ilmu agama. Harapan itu kini pupus bersama kepergian anak tersebut, meninggalkan duka yang dalam di hati keluarga.
Kronologi dan Dugaan Kekerasan
Menurut keterangan keluarga yang diperoleh dari berbagai laporan awal, NS ditemukan dalam kondisi tubuh yang melepuh seperti terkena luka bakar serius. Ayah dan kakek angkatnya menyebut bahwa korban sempat mengungkapkan bahwa ia dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya sebelum kondisinya memburuk.
Kasus ini kemudian menjadi viral di media sosial setelah video korban yang terbaring di rumah sakit berkembang luas. Warganet banyak mengungkapkan keprihatinan dan kemarahan atas dugaan tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh orang dekat korban.
Pihak kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan terhadap penyebab pasti kematian serta pemeriksaan saksi-saksi, termasuk tenaga medis yang menangani NS. Tim juga tengah menunggu hasil autopsi untuk memperjelas apakah luka yang ditemukan di tubuh korban memang akibat tindak kekerasan.
Reaksi Masyarakat dan Lembaga Perlindungan Anak
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam keras dugaan penganiayaan terhadap NS dan mendesak agar kasus ini diproses secara cepat serta pelaku diberikan hukuman maksimal sesuai ketentuan undang-undang perlindungan anak. KPAI menekankan pentingnya penegakan hukum yang adil serta perlindungan bagi anak dalam situasi kekerasan rumah tangga.
Namun dari sisi ibu tiri, yang berinisial TR (47), muncul bantahan terhadap tuduhan tersebut. Ia mengklaim bahwa kondisi fisik NS yang memprihatinkan merupakan akibat dari penyakit serius, seperti leukemia autoimun, sehingga luka bakar yang terlihat di tubuh korban berkaitan dengan kondisi medis tersebut, bukan penganiayaan. Klaim ini menjadi bagian dari dinamika penyelidikan yang tengah berjalan.
Dampak dan Harapan
Kematian seorang anak muda yang dikenal rajin belajar dan bercita-cita mulia ini meninggalkan dampak emosional yang besar bagi keluarga, teman, dan masyarakat luas. Kasus ini juga kembali membuka diskusi mengenai perlindungan anak dalam lingkungan keluarga serta pentingnya mekanisme pengawasan terhadap potensi kekerasan domestik.
Pihak pesantren terus mengenang NS sebagai santri yang memberikan warna tersendiri selama masa pendidikannya di pesantren dan berharap bahwa proses hukum dapat berjalan transparan sehingga kebenaran di balik kejadian ini bisa terungkap sepenuhnya.
Kesimpulan
Kasus ini merupakan tragedi kemanusiaan yang menyentuh banyak pihak. Seorang santri berusia 12 tahun yang penuh cita-cita meninggal dengan luka serius di tubuhnya, memicu penyelidikan dan perdebatan publik mengenai dugaan penganiayaan oleh orang dalam keluarga sendiri. Proses hukum dan penyelidikan forensik masih berjalan, dan masyarakat berharap agar kasus ini segera memperoleh kejelasan secara hukum demi keadilan bagi korban dan keluarga.

