Pasar Finansial Guncang: Prabowo Tunjuk Ponakan ke BI, Kekhawatiran Independen Bank Sentral dan Pelemahan Rupiah
Jakarta, 20 Januari 2026 – Pasar finansial Indonesia mengalami tekanan kuat setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukan nominasi Thomas Djiwandono, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, untuk posisi Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI). Aksi pasar ini terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah dan aksi jual ekuitas, yang memicu kekhawatiran investor domestik maupun asing terhadap independensi bank sentral.
Mayoritas pelaku pasar menyampaikan bahwa langkah pemerintah tersebut berpotensi mengganggu ekspektasi independensi BI yang selama ini menjadi pilar stabilitas moneter Indonesia. Kekhawatiran ini memuncak setelah berita nominasi putra keluarga tokoh kuat dalam kabinet disampaikan kepada publik, yang kemudian membuat rupiah tertekan dan indeks saham mengalami aksi net sell.
Reaksi Pasar: Rupiah Tertekan dan Aksi Net Sell
Pada perdagangan awal pekan ini, rupiah bergerak menuju level terlemah dalam beberapa bulan terakhir, mendekati Rp16.900 per dolar AS, mencerminkan reaksi pasar terhadap berita penunjukan tersebut. Aksi jual bersih asing juga muncul di bursa domestik, memicu tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Seorang analis di Singapura mengatakan kepada media bahwa investor “tidak suka” dengan langkah ini karena mereka melihatnya sebagai indikasi potensi campur tangan politik pada pengambilan kebijakan moneter, yang selama ini dijaga ketat oleh BI sebagai bank sentral independen.
Profil Calon dan Proses Legislasi
Thomas Djiwandono merupakan politisi dan wakil menteri yang pernah berkecimpung dalam sektor keuangan. Ia menjadi sorotan karena hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo serta latar belakangnya sebagai pengurus partai politik yang berkuasa. Djiwandono kini dimasukkan sebagai salah satu kandidat dalam fit and proper test di DPR untuk posisi di Dewan Gubernur BI.
Proses nominasi ini mengikuti pengunduran diri Deputi Gubernur BI sebelumnya, sehingga menciptakan kekosongan yang harus segera diisi agar kebijakan moneter tetap berjalan efektif. Selain Thomas, DPR juga menerima sejumlah kandidat lain untuk posisi tersebut, termasuk tokoh yang memiliki latar belakang teknokrat atau profesional di sektor moneter.
Kekhawatiran atas Independensi BI
Penunjukan ponakan presiden ke posisi strategis di BI memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa kebijakan moneter bisa lebih dipengaruhi oleh kepentingan politik atau target pertumbuhan ekonomi tertentu, daripada fokus stabilitas harga dan nilai tukar. Isu ini semakin sensitif setelah beberapa kebijakan fiskal dan moneter sebelumnya menjadi sorotan publik.
Namun, pemerintah cepat merespon kekhawatiran tersebut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pergantian posisi antara pejabat di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia tidak akan mengurangi independensi lembaga moneter. Ia menegaskan bahwa BI akan mempertahankan perannya secara bebas dalam menentukan kebijakan suku bunga, intervensi pasar, dan stabilitas finansial.
Purbaya menyatakan, “Kami akan menjunjung tinggi independensi BI. Tidak ada intervensi pemerintah untuk memaksa BI mendukung agenda pembiayaan proyek tertentu,” ujar dia dalam klarifikasi kepada media internasional.
Dampak Kebijakan terhadap Rupiah dan Pasar Modal
Kekhawatiran pasar atas independensi bank sentral juga berimbas pada pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang domestik sempat menyentuh titik terendah dalam sembilan bulan terakhir, yang dipengaruhi tidak hanya oleh dinamika politik internal, tetapi juga sentimen global seperti kebijakan suku bunga AS dan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.
Selain itu, aksi net sell investor asing pada pasar saham Indonesia juga mencerminkan bahwa ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter mempengaruhi keputusan portofolio mereka. Situasi ini mempertegas bahwa kepercayaan pasar terhadap sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat penting dalam menjaga stabilitas finansial.
Pandangan Analis dan Proyeksi Ke Depan
Beberapa analis menyatakan bahwa keputusan DPR atas nominasi anggota Dewan Gubernur BI menjadi kunci arah pasar selanjutnya. Jika deputi yang terpilih dianggap memiliki kredibilitas tinggi dan komitmen kuat terhadap independensi BI, tekanan di pasar dinilai akan berkurang. Namun, jika pasar melihat adanya unsur politisasi dalam keputusan tersebut, volatilitas rupiah dan arus modal bisa tetap tinggi di jangka pendek.
Sementara itu, koordinasi kebijakan antara BI dan pemerintah masih menjadi sorotan penting. Pemerintah dan bank sentral perlu memastikan bahwa kebijakan moneter dan fiskal bekerja saling mendukung tanpa menimbulkan persepsi campur tangan yang berlebihan.

