Wasit Arab Saudi Majed Al-Shamrani Buka Suara Usai Kontroversi Laga Persib vs Ratchaburi
Pertandingan antara Persib Bandung dan Ratchaburi FC pada leg kedua babak 16 besar AFC Champions League Two 2025/2026 memicu polemik besar. Sorotan publik tertuju pada kepemimpinan wasit asal Arab Saudi, Majed Mohammed Al‑Shamrani, yang akhirnya memberikan klarifikasi setelah menerima kritik keras dari suporter.
Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada 19 Februari 2026 itu berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Persib. Namun hasil tersebut tidak cukup membawa klub asal Bandung melaju ke fase berikutnya karena kalah agregat 1-3 dari wakil Thailand tersebut. Situasi pertandingan sejak awal berlangsung panas akibat sejumlah keputusan wasit yang dianggap kontroversial oleh kubu tuan rumah dan pendukungnya.
Beberapa momen krusial memicu protes keras dari tribun. Gol Persib sempat dianulir, sementara kartu merah yang diberikan kepada pemain Uilliam Barros pada penghujung babak pertama membuat tim harus bermain dengan 10 orang. Keputusan-keputusan tersebut memancing kekecewaan suporter yang menilai timnya dirugikan saat sedang berusaha mengejar ketertinggalan agregat.
Ketegangan tidak berhenti hingga peluit akhir berbunyi. Sejumlah oknum suporter dilaporkan masuk ke lapangan dan mencoba mendekati sang wasit. Petugas keamanan segera bertindak untuk mengendalikan situasi dan mengamankan perangkat pertandingan. Selain itu, terjadi pula pelemparan botol serta petasan dari tribun, sehingga pemain dan ofisial Ratchaburi langsung diarahkan menuju ruang ganti demi menjaga keselamatan.
Gelombang kritik juga meluas ke media sosial. Akun Instagram milik Al-Shamrani dibanjiri komentar negatif dari warganet. Tekanan tersebut mendorong sang wasit untuk memberikan penjelasan secara langsung melalui Instagram Story pribadinya.
Dalam pernyataannya, Al-Shamrani menegaskan bahwa ia telah menjalankan tugas sesuai aturan pertandingan. Ia menyebut semua keputusan yang diambil di lapangan merupakan keputusan yang tepat berdasarkan penilaiannya saat memimpin laga. Pernyataan itu sekaligus menjadi respons atas tudingan bahwa dirinya membuat keputusan yang merugikan Persib.
Di sisi lain, pelatih Persib Bojan Hodak sebelumnya juga mengisyaratkan kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut. Meski tidak berbicara panjang, ia menyebut ada beberapa hal yang patut dipertanyakan dari jalannya pertandingan. Kondisi semakin sulit bagi Persib setelah kartu merah membuat keseimbangan tim berubah sepanjang babak kedua.
Kemenangan 1-0 melalui gol Andrew Jung sebenarnya sempat menjaga harapan Persib. Namun kekalahan telak 0-3 pada leg pertama membuat langkah mereka tetap terhenti di babak 16 besar kompetisi Asia musim ini. Hasil tersebut sekaligus menutup perjalanan Maung Bandung di kancah internasional untuk musim 2025/2026.
Insiden pascalaga juga berpotensi membawa konsekuensi lebih lanjut. Kericuhan suporter dan kontroversi pertandingan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk federasi sepak bola Asia. Situasi tersebut bisa berdampak pada penilaian disiplin maupun citra klub serta sepak bola Indonesia di level internasional.
Klarifikasi dari Al-Shamrani memang tidak serta-merta meredakan perdebatan. Namun pernyataan tersebut menegaskan bahwa ia berdiri pada keputusan yang telah diambil selama pertandingan berlangsung. Polemik ini menunjukkan kembali betapa besar tekanan terhadap perangkat pertandingan dalam laga internasional, terutama ketika hasil akhir menentukan nasib klub di kompetisi Asia.

