Dunia Bisa Berubah! Iran Buka Selat Hormuz Tapi Pasang Syarat Mengejutkan: Minyak Harus Dibayar Pakai Yuan, Bukan Dolar
KilasanBerita.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah muncul kabar mengejutkan dari Iran. Negara tersebut dikabarkan membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, tetapi dengan syarat yang membuat dunia terkejut.
Iran disebut hanya akan mengizinkan kapal tanker melintas secara terbatas jika transaksi minyak yang dibawa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat, melainkan yuan milik China. Kebijakan ini sedang dikaji oleh pemerintah di Teheran sebagai respons terhadap tekanan geopolitik dan sanksi ekonomi yang terus meningkat.
Langkah ini langsung memicu perhatian global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Jalur laut sempit ini menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan pasar energi global.
Tak heran jika setiap kebijakan yang menyangkut Selat Hormuz bisa berdampak besar pada pasar minyak dunia. Bahkan sebagian besar perdagangan minyak global melewati jalur ini.
Syarat Baru yang Mengguncang Dunia Energi
Menurut sejumlah laporan, Iran mempertimbangkan skema baru di mana kapal tanker hanya mendapat akses tertentu jika minyak atau gas yang diangkut diperdagangkan menggunakan yuan.
Jika benar diterapkan, kebijakan ini bukan hanya soal aturan pelayaran. Dampaknya bisa menyentuh fondasi perdagangan energi global yang selama puluhan tahun hampir sepenuhnya menggunakan dolar AS.
Selama ini sistem perdagangan minyak dunia dikenal dengan istilah petrodollar, yaitu mekanisme di mana minyak dijual menggunakan dolar Amerika. Sistem ini telah menjadi pilar kekuatan finansial Amerika sejak dekade 1970-an.
Karena minyak merupakan komoditas vital yang dibutuhkan semua negara, penggunaan dolar dalam transaksi energi membuat mata uang tersebut selalu dibutuhkan oleh hampir seluruh ekonomi dunia.
Namun kini muncul wacana baru: petroyuan, yaitu perdagangan minyak menggunakan mata uang China.
Di Tengah Krisis, Ekspor Minyak Iran Masih Jalan
Menariknya, meski kawasan Teluk sedang dilanda ketegangan, ekspor energi Iran ternyata tetap berlangsung. Data pelacakan kapal menunjukkan Iran masih mengekspor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari, dan sebagian besar dikirim ke China yang menjadi pembeli terbesar minyak Iran saat ini. Situasi ini menunjukkan bahwa jalur energi Iran masih aktif, meskipun konflik dan risiko keamanan di wilayah tersebut meningkat.
Kesimpulan
Rencana Iran membuka Selat Hormuz dengan syarat pembayaran minyak menggunakan yuan berpotensi menjadi titik balik besar dalam sistem perdagangan energi dunia. Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan dan diikuti negara lain, dominasi dolar dalam perdagangan minyak bisa mulai tergerus. Dalam jangka panjang, langkah tersebut dapat mempercepat pergeseran kekuatan ekonomi global dari sistem petrodollar menuju kemungkinan munculnya petroyuan. Dengan kata lain, keputusan yang terlihat seperti aturan pelayaran biasa ini bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam peta ekonomi dan geopolitik dunia.

