Guru Sejarah MAN 1 Yogyakarta Ikuti Diskusi Ilmiah “Menarasikan Sejarah Nasional dalam Perspektif Ilmiah”
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta — Sejarah adalah disiplin ilmu yang tidak pernah statis, melainkan terus berkembang seiring dinamika kehidupan manusia. Menyikapi pentingnya pemahaman sejarah secara ilmiah di tengah tuntutan pendidikan modern, para guru sejarah Madrasah Aliyah (MA) se–Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berkumpul dalam sebuah diskusi ilmiah bertajuk “Menarasikan Sejarah Nasional dalam Perspektif Ilmiah”. Acara ini digelar di Ruang Perpustakaan MAN 3 Sleman pada Selasa (10 Februari 2026) dan dihadiri oleh guru sejarah dari berbagai MA, termasuk perwakilan dari MAN 1 Yogyakarta.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari pertemuan rutin MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah MA DIY yang dilaksanakan setiap bulan. Hadir sebagai pemateri kegiatan ini adalah Kuncoro Hadi, M.A., dosen Ilmu Sejarah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang memaparkan pentingnya mengenalkan sejarah dengan pendekatan ilmiah dan kontekstual di ruang kelas.
Kesadaran Baru dalam Pembelajaran Sejarah
Pertanyaan pembuka dalam diskusi ini adalah: “Bagaimana guru sejarah mengajarkan sejarah nasional secara objektif?” Pertanyaan sederhana namun sarat makna ini menjadi pemantik diskusi yang intens dan reflektif. Para guru yang hadir menyimak dengan cermat penjelasan pemateri yang menekankan bahwa sejarah bukanlah kumpulan fakta yang dogmatis, melainkan hasil konstruksi manusia berdasarkan sumber dan konteks yang beragam.
Menurut Kuncoro, sejarah harus diajarkan secara demokratis di kelas. Artinya, guru tidak boleh menempatkan satu sumber sebagai kebenaran mutlak, melainkan membuka ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi dan membandingkan beragam sumber sejarah—tertulis maupun lisan—hingga mereka dapat memverifikasi dan memahami berbagai sudut pandang historis secara kritis.
“Sejarah tidak semestinya diajarkan secara dogmatis. Sejarah merupakan hasil konstruksi manusia yang selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang berdasarkan sumber, konteks, dan perspektif yang beragam,” tegas Kuncoro di hadapan para guru sejarah.
Pendekatan demokratis ini bertujuan untuk memicu kemampuan berpikir kritis peserta didik serta melatih mereka menjadi pembelajar aktif yang tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi mampu melakukan evaluasi terhadap narasi sejarah yang mereka pelajari.
Peran Guru sebagai Fasilitator Pemahaman Sejarah
Kuncoro menegaskan bahwa peran guru sejarah bukanlah sekadar penyampai fakta, tetapi lebih sebagai fasilitator yang membimbing proses pembelajaran yang terbuka dan kritis. Guru diharapkan mampu membantu siswa menelusuri sumber-sumber sejarah, mengajarkan teknik verifikasi sumber, serta mendorong diskusi yang sehat dalam kelas.
Melalui pendekatan dialogis, siswa diajak untuk tidak hanya menghafal fakta sejarah yang tertulis di buku pelajaran, tetapi juga memahami konteks sosial, politik, dan budaya di balik setiap peristiwa sejarah. Hal ini sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 yang menekankan keterampilan berpikir kritis, komunikasi efektif, dan kemampuan pemecahan masalah.
Selain itu, Kuncoro juga menyoroti bahwa kecenderungan penulisan sejarah di masa lalu seringkali terlalu bergantung pada sumber-sumber kolonial. Padahal, sejarah lokal dan narasi non-elit memiliki nilai penting dalam memperkaya pemahaman sejarah nasional secara lebih holistik. Dengan memahami sejarah lokal, siswa dapat melihat keterkaitan antara proses sejarah nasional dan cerita yang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.
Tantangan Mengajarkan Sejarah Sensitif secara Objektif
Diskusi semakin berkembang ketika materi beralih ke tantangan dalam mengajarkan topik-topik sejarah yang sarat emosi dan kontroversial dalam narasi besar sejarah nasional, seperti peristiwa 1965, Reformasi 1998, dan proses awal kemerdekaan Indonesia. Semua topik tersebut tetap relevan diajarkan di kelas, namun perlu pendekatan yang hati-hati dan ilmiah agar siswa dapat memahami konteksnya secara adil dan kritis.
Kuncoro menyarankan agar buku teks sejarah dipandang sebagai pintu masuk untuk membuka eksplorasi lebih jauh, bukan sebagai satu-satunya sumber belajar. Setelah menggunakan buku teks sebagai referensi awal, guru perlu mengajak siswa mengeksplorasi dokumen arsip, artikel ilmiah, sumber digital, serta narasi sejarah lokal yang dapat memperkaya pemahaman mereka.
Manfaat Diskusi Ilmiah bagi Profesionalisme Guru
Kegiatan diskusi ilmiah ini pula menjadi ruang penting bagi guru sejarah untuk saling berbagi pengalaman, tantangan mengajar, dan strategi pembelajaran yang efektif. Dengan bertukar gagasan, guru memperoleh wawasan baru yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari, khususnya dalam menciptakan suasana kelas yang lebih partisipatif, reflektif, dan bermakna.
Harapannya, dengan peningkatan pemahaman guru tentang narasi sejarah yang ilmiah dan đa-perspektif, peserta didik akan memperoleh pembelajaran yang lebih bermakna, bukan sekadar hafalan tanggal dan tokoh, tetapi pemahaman tentang bagaimana sejarah merupakan cerminan dari dinamika kehidupan manusia yang kompleks dan saling berkaitan.
Pernyataan Kepala MAN 1 Yogyakarta
Dalam kesempatan yang sama, Kepala MAN 1 Yogyakarta, H. Edy Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap terselenggaranya diskusi ilmiah ini. Menurut Edy Triyanto, forum MGMP seperti ini menjadi sarana strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru sekaligus memperkaya perspektif pembelajaran sejarah di kelas.
“Guru sejarah memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap bangsa dan negaranya. Diskusi ilmiah seperti ini sangat relevan agar pembelajaran sejarah tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga menumbuhkan daya kritis, sikap bijak, dan kecintaan terhadap tanah air,” ujar Edy Triyanto.
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Sejarah di Sekolah
Melalui kegiatan seperti ini, kualitas pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah Madrasah Aliyah DIY diharapkan dapat terus meningkat. Guru tidak hanya menyampaikan sejarah sebagai daftar peristiwa, tetapi juga membimbing siswa memahami alur sebab dan akibat dalam peristiwa sejarah, bagaimana narasi sejarah disusun, serta keterbukaan terhadap sumber-sumber yang berbeda.
Pendidikan sejarah yang kontekstual dan ilmiah ini memiliki tujuan luas, yakni membantu peserta didik memahami masa lalu bangsa Indonesia secara kritis dan membangun kesadaran identitas nasional yang inklusif. Dengan begitu, generasi muda diharapkan mampu menghargai keberagaman pengalaman sejarah bangsa dan menempatkan perjuangan masa lalu dalam konteks kehidupan masa kini dan masa depan.
Kesimpulan: Sejarah sebagai Keterampilan Berpikir
Diskusi “Menarasikan Sejarah Nasional dalam Perspektif Ilmiah” yang diikuti oleh guru sejarah MAN 1 Yogyakarta dan guru MA se-DIY merupakan bentuk nyata upaya peningkatan kualitas pendidikan sejarah di tingkat sekolah menengah. Bersama pemateri dari akademisi, para pendidik dibekali keterampilan untuk mengimplementasikan pembelajaran sejarah secara lebih ilmiah, kritis, dan demokratis.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran sejarah diharapkan tidak hanya menjadi hafalan semata tetapi sebagai proses pemahaman yang menumbuhkan nalar kritis, kearifan nasional, dan rasa kebangsaan peserta didik. Sebuah pembelajaran sejarah yang bermakna akan membantu generasi masa depan Indonesia untuk menghadapi perubahan sosial dan tantangan global secara reflektif dan berwawasan luas.
Referensi Utama
- Guru Sejarah MAN 1 Yogyakarta Hadiri Diskusi “Menarasikan Sejarah Nasional dalam Perspektif Ilmiah” — yogyakartakota.kemenag.go.id, 12 Feb 2026.

