Breaking News

Iran Pilih Pemimpin Tertinggi Baru, Nama Ini Pernah Disebut Trump

Iran akhirnya memilih pemimpin tertinggi baru Iran setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam konflik yang melibatkan serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026. Sosok yang dipilih adalah Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya.

Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli Iran (Assembly of Experts) pada 8 Maret 2026. Lembaga tersebut memang memiliki wewenang konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi ketika posisi tersebut kosong.

Nama Mojtaba Khamenei sebenarnya sudah lama disebut dalam diskusi suksesi kepemimpinan Iran. Bahkan, sebelumnya mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah menyatakan keberatannya terhadap kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi Iran.


Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran menandai babak baru dalam politik negara tersebut. Ia menjadi pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini dan ayahnya, Ali Khamenei.

Mojtaba dikenal sebagai ulama garis keras yang memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Hubungan ini membuatnya memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran meskipun sebelumnya jarang tampil secara resmi di panggung politik.

Para analis menilai pengangkatan Mojtaba menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memiliki pengaruh kuat dalam sistem politik Iran.


Pernah Dikritik oleh Donald Trump

Nama Mojtaba Khamenei sempat menjadi sorotan karena kritik dari Donald Trump. Dalam beberapa pernyataannya, Trump menyebut Mojtaba sebagai kandidat yang tidak dapat diterima sebagai pemimpin Iran.

Trump bahkan pernah mengatakan bahwa Amerika Serikat ingin memiliki peran dalam menentukan kepemimpinan Iran setelah kematian Ali Khamenei. Pernyataan tersebut memicu kontroversi karena dianggap sebagai campur tangan dalam urusan internal Iran.

Namun, pemilihan Mojtaba justru dipandang oleh sebagian kalangan di Iran sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan dari Barat.


Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli, sebuah badan ulama yang terdiri dari 88 anggota. Mereka bertugas menilai dan memilih sosok yang dianggap layak memimpin negara secara politik dan spiritual.

Setelah kematian Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, Iran sempat dipimpin oleh dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari beberapa pejabat tinggi negara. Dewan ini bertugas menjalankan fungsi pemimpin tertinggi sampai pengganti resmi ditunjuk.

Beberapa hari kemudian, Majelis Ahli akhirnya mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru.


Dampak Politik dan Ketegangan Global

Pengangkatan Mojtaba Khamenei terjadi di tengah konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat setelah serangkaian serangan militer yang menewaskan ratusan orang.

Banyak pengamat menilai bahwa kepemimpinan Mojtaba kemungkinan akan melanjutkan kebijakan keras Iran terhadap Barat. Selain itu, konflik regional diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.


Kesimpulan

Pemilihan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menjadi salah satu peristiwa politik paling penting di Timur Tengah pada 2026. Selain melanjutkan kepemimpinan keluarga Khamenei, keputusan ini juga menandai arah politik Iran yang kemungkinan tetap keras terhadap Barat.

Dengan latar belakang konflik yang masih berlangsung, kepemimpinan baru ini diperkirakan akan berpengaruh besar terhadap stabilitas kawasan dan hubungan internasional Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *