Trump Sebut Invasi Darat ke Iran “Buang-buang Waktu”, AS Pilih Serangan Udara
Trump Anggap Invasi Darat Tidak Efektif
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai bahwa rencana invasi darat ke Iran saat ini tidak masuk akal. Ia bahkan menyebut langkah tersebut hanya akan menjadi “buang-buang waktu.”
Pernyataan itu muncul di tengah konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Trump menegaskan bahwa strategi militer AS saat ini lebih fokus pada serangan udara dan laut, yang dinilai sudah memberikan dampak besar terhadap kekuatan militer Iran.
Menurutnya, operasi militer yang berlangsung telah menghancurkan banyak fasilitas militer Iran, sehingga pengerahan pasukan darat tidak dianggap perlu.
Iran Disebut Sudah Kehilangan Banyak Kekuatan
Trump juga menyatakan bahwa Iran telah mengalami kerugian militer besar dalam konflik terbaru ini. Ia mengklaim bahwa negara tersebut “telah kehilangan hampir semua yang bisa mereka kehilangan.”
Dalam operasi militer yang sedang berlangsung, pasukan AS dilaporkan menargetkan berbagai fasilitas penting Iran, termasuk sistem rudal, pangkalan militer, dan infrastruktur strategis lainnya.
Beberapa laporan militer bahkan menyebut puluhan kapal perang Iran telah dihancurkan dalam serangan tersebut.
Konflik Iran Semakin Memanas
Konflik antara AS, Israel, dan Iran terus meningkat sejak serangan militer besar yang dimulai pada akhir Februari 2026. Operasi tersebut melibatkan serangan udara, drone, dan rudal terhadap berbagai target di Iran.
Serangan ini memicu balasan dari Iran dan sekutunya di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan rudal dan drone terhadap target yang terkait dengan AS dan Israel.
Situasi tersebut membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam ketegangan tinggi dengan risiko eskalasi perang yang lebih luas.
Kongres AS Masih Mendukung Operasi Militer
Di sisi politik domestik, konflik ini juga menjadi perdebatan di Amerika Serikat.
Namun DPR AS diketahui menolak resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan presiden dalam melakukan operasi militer terhadap Iran. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anggota parlemen masih memberikan dukungan terhadap kebijakan militer Trump.
Meski demikian, banyak pihak tetap khawatir konflik ini dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih besar.
