BeritaKriminalitas

Lautan Api: Iran Unjuk Kekuatan di Selat Hormuz, Tantang Dominasi AS

Selat Hormuz kembali menjadi titik api yang membara. Di tengah kepungan armada kapal induk Amerika Serikat yang diperintahkan Presiden Donald Trump, Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Sebaliknya, Iran justru memamerkan kekuatan militernya melalui latihan tempur skala besar yang melibatkan armada kapal cepat, kapal selam mini, hingga sistem rudal anti-kapal tercanggihnya.

Potret unjuk kekuatan ini mengirimkan pesan yang sangat jelas ke Washington: Iran siap menjadikan Selat Hormuz sebagai “kuburan” bagi aset militer asing jika kedaulatan mereka terganggu. Selat yang hanya selebar 33 kilometer di titik tersempitnya ini bukan sekadar jalur air, melainkan urat nadi ekonomi global di mana sepertiga minyak mentah dunia melintas setiap harinya.

Langkah Iran ini dipandang sebagai bentuk pertahanan asimetris. Menyadari kalah dalam jumlah kapal besar, Iran mengandalkan taktik “kerumunan” (swarming) menggunakan ratusan kapal cepat yang sulit dideteksi radar untuk mengepung kapal perang besar. Ketegangan ini membawa dunia ke ambang krisis energi yang bisa meledak kapan saja.

Rudal dan Drone: Perisai Teheran di Pintu Teluk

Dalam latihan tempur bertajuk “Zulfiqar 2026” tersebut, Iran meluncurkan berbagai jenis rudal balistik dan jelajah yang diklaim mampu menjangkau target di seluruh wilayah Teluk. Penggunaan drone bunuh diri (suicide drones) juga menjadi sorotan utama, menunjukkan kemajuan teknologi militer Iran yang kian mandiri meski dihimpit sanksi bertahun-tahun.

“Kami tidak mencari perang, tetapi kami sangat siap untuk membela diri. Selat Hormuz adalah wilayah kami, dan kami yang menentukan keamanannya,” tegas salah satu komandan tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Langkah Iran ini secara taktis bertujuan untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menutup Selat Hormuz secara total. Jika ancaman ini terwujud, harga minyak dunia diprediksi akan meroket melampaui angka $150 per barel, sebuah skenario mimpi buruk bagi ekonomi global yang baru saja mencoba pulih dari inflasi.

Perang Saraf di Jalur Nadi Energi

Unjuk kekuatan ini bukan sekadar latihan militer, melainkan bagian dari perang saraf (psychological warfare) tingkat tinggi. Dengan menunjukkan kesiapan tempur di Selat Hormuz, Iran ingin memperingatkan sekutu-sekutu AS di kawasan, seperti Arab Saudi dan UEA, mengenai risiko yang harus mereka tanggung jika mendukung tindakan militer AS.

Di sisi lain, AS tetap bersikeras bahwa mereka akan menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional. Kehadiran kapal induk AS di dekat wilayah latihan Iran menciptakan situasi “gesekan langsung” yang sangat berbahaya. Miskalkulasi sekecil apa pun di lapangan dapat memicu rentetan ledakan yang tak terkendali.

Analis internasional melihat bahwa unjuk kekuatan ini adalah kartu as Iran dalam meja negosiasi. Mereka ingin menunjukkan bahwa tekanan maksimal dari Washington akan dibalas dengan perlawanan maksimal di lapangan, terutama di lokasi paling sensitif bagi ekonomi Barat.

Dampak bagi Stabilitas Dunia

Dunia internasional, termasuk China dan Uni Eropa, terus menyerukan agar kedua pihak menahan diri. China, sebagai importir minyak terbesar dari Timur Tengah, memiliki kepentingan vital agar jalur ini tetap terbuka. Jika Selat Hormuz lumpuh, stabilitas industri di Beijing hingga Jakarta akan ikut tergoncang.

Saat ini, mata dunia tertuju pada setiap pergerakan di perairan biru tersebut. Potret kapal-kapal Iran yang melaju kencang di antara kapal-kapal tanker raksasa adalah simbol dari rapuhnya perdamaian dunia saat ini. Di Selat Hormuz, bukan hanya kedaulatan yang sedang dipertaruhkan, melainkan juga keberlangsungan ekonomi miliaran orang di seluruh bumi.

Related Keywords: konflik Selat Hormuz 2026, militer Iran vs AS, ancaman penutupan Selat Hormuz, rudal balistik Iran, keamanan energi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *