BeritaKriminalitasPengetahuan UmumPolitik

Hizbullah Ingatkan AS Agar Tak Serang Iran: Ancaman Bisa “Picu Letusan Gunung Berapi”

JAKARTA — Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah seorang pejabat tinggi dari gerakan perlawanan Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengeluarkan peringatan keras kepada Washington. Peringatan itu menyangkut kemungkinan tindakan militer AS terhadap Iran, yang menurutnya bisa memperluas konflik dan “memicu letusan gunung berapi di kawasan”.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah eskalasi retorika dan penempatan militer AS di kawasan Asia Barat, termasuk pengerahan kapal induk dan armada militer di sekitar perairan Teluk Persia. Imbauan Hizbullah ini juga disertai dengan pernyataan dari kelompok pro-Iran lainnya yang menekankan bahwa setiap agresi bisa melibatkan berbagai front perlawanan di Timur Tengah.


Peringatan Hizbullah kepada Amerika Serikat

Hizbullah, sebuah organisasi militan dan politik yang memiliki pengaruh kuat di Lebanon serta hubungan dekat dengan Iran, melalui Nawaf al-Moussawi — Kepala Bidang Perbatasan dan Sumber Daya — memperingatkan Washington agar tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Al-Moussawi menyatakan bahwa setiap upaya agresi semacam itu bisa “memicu letusan ‘gunung berapi’ di kawasan”, sebuah metafora yang menggambarkan potensi konflik meluas dan eskalasi yang tidak mudah dikendalikan. Ia menekankan bahwa langkah militer semacam itu kemungkinan besar berasal dari kesalahan perhitungan dan bisa membawa konsekuensi serius.

Ungkapan itu menggambarkan kekhawatiran Hizbullah akan dampak bagi stabilitas regional dan kemungkinan keterlibatan langsung atau tidak langsung kelompok-kelompok militan pro-Iran lainnya jika terjadi serangan terhadap Teheran.


Latar Belakang Ketegangan AS–Iran

Hubungan antara AS dan Iran telah lama penuh ketegangan, dipicu oleh masalah program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan. Baru-baru ini, Presiden AS kembali mengeluarkan retorika keras dan mengirimkan armada militer ke wilayah Timur Tengah untuk menunjukkan kesiapan terhadap skenario konflik.

Washington dikabarkan ingin menjalin kesepakatan baru dengan Iran, namun sinyal adanya ancaman militer juga tidak dihilangkan, yang semakin memicu kekhawatiran di antara sekutu Teheran dan kelompok militan yang mendukungnya.


Metafora Letusan Gunung Berapi: Makna dan Kekhawatiran

Pernyataan bahwa serangan terhadap Iran bisa “memicu letusan gunung berapi” bukan bermaksud prediksi geologis, tetapi metafora kuat untuk dampak geopolitik besar yang sulit dikendalikan. Ini mencerminkan pandangan Hizbullah bahwa konflik berskala besar dapat menyebar secara cepat, menarik lebih banyak aktor ke dalam pertempuran yang tidak hanya terbatas pada dua negara.

Dalam sejarah konflik regional, kata-kata semacam ini sering digunakan untuk memperingatkan tentang efek domino — di mana serangan terhadap satu negara bisa memicu reaksi dari sekutu, memperluas konflik dan mempengaruhi keamanan regional secara luas.


Reaksi Kelompok Perlawanan Lainnya

Selain pernyataan al-Moussawi, kelompok-kelompok lain yang sejalan dengan Iran juga telah memberikan pernyataan tegas bahwa mereka siap merespons jika Iran diserang. Misalnya, Harakat Hezbollah al-Nujaba dari Irak menyatakan bahwa mereka akan turut mempertahankan Iran dan menekankan bahwa konflik semacam itu bisa menarik berbagai negara Teluk dan kawasan ke dalam konfrontasi yang lebih luas.

Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, juga pernah menekankan bahwa serangan terhadap Iran ataupun sekutu-sekutunya bisa “membakar seluruh kawasan”, yang menunjukkan bahwa kelompok ini melihat konflik sebagai sesuatu yang bisa memperluas front pertikaian di Timur Tengah.


Amerika Serikat dan Penempatan Militer di Asia Barat

Retorika dan pernyataan peringatan ini muncul di saat AS telah mengirim kekuatan militer termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln ke Asia Barat, sebuah langkah yang secara luas dipandang sebagai sinyal kekuatan atau persiapan untuk opsi militer.

Pengerahan ini menambah ketegangan yang sudah ada di Teluk Persia, di mana konflik antara kebijakan Washington dan kepentingan Teheran telah berlangsung selama puluhan tahun dan diperumit oleh faktor sekutu masing-masing.


Diplomasi, Sanksi, dan Upaya Mediasi

Selain ancaman militer, ketegangan ini juga mencakup diplomasi dan sanksi internasional. Misalnya, Uni Eropa dikabarkan akan memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke daftar organisasi teroris sebagai respon terhadap tindakan keras oleh pemerintah Teheran terhadap demonstran massal.

Langkah semacam itu menambah tekanan pada Iran dan memperumit hubungan diplomatik antara Teheran dan negara-negara Barat, termasuk AS. Namun, ada juga upaya dari pihak mediasi internasional untuk mencegah konflik berkembang, termasuk melalui negosiasi diplomatik di tingkat tinggi.


Analisis Potensi Dampak Serangan Militer

Para analis internasional mengatakan bahwa setiap serangan militer terhadap Iran bisa memiliki banyak implikasi:

  • Perluasan konflik — serangan semacam itu dapat menyebabkan kelompok proksi dan sekutu Iran berpartisipasi, memperluas konflik ke negara lain di Teluk dan kawasan Levant.
  • Gangguan pasar energi global — konflik di Teluk Persia bisa mengganggu pasokan minyak dan gas dunia, yang berakibat pada harga energi global.
  • Risiko humaniter — konflik berskala besar bisa menyebabkan korban sipil dan krisis pengungsi.

Peringatan Hizbullah yang menggunakan metafora letusan gunung berapi ini menekankan bahwa konsekuensi dari intervensi militer tidak hanya akan terbatas pada garis depan pertempuran, tetapi bisa membakar stabilitas di seluruh kawasan secara luas.


Konteks Lebih Luas Ketegangan Regional

Sebagai latar belakang, hubungan antara AS dan Iran telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir seiring eskalasi retorika, isu program nuklir, sanksi ekonomi, dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan di berbagai negara. Iran sendiri dalam beberapa hari terakhir juga memperluas kekuatan militernya, termasuk menambah jumlah drone tempur yang siap digunakan dalam konflik.

Kekhawatiran bahwa serangan AS bisa triggers konflik besar bukan hanya retorika dari satu pihak. Kelompok-kelompok regional dan negara lain, seperti Arab Saudi, juga menegaskan mereka tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran, sebuah sinyal bahwa stabilitas regional menjadi prioritas bagi beberapa negara Teluk.


Kesimpulan

Peringatan Hizbullah bahwa serangan militer AS terhadap Iran bisa “memicu letusan gunung berapi” di kawasan mencerminkan rasa takut terhadap potensi eskalasi konflik besar di Timur Tengah. Pernyataan ini, meskipun metaforis, menekankan bahwa risiko geopolitik dan dampak stabilitas regional bisa sangat jauh lebih besar daripada yang diperkirakan banyak pihak.

Ketegangan AS–Iran tetap menjadi isu utama dalam politik internasional, dengan berbagai aktor regional dan global memperhatikan setiap langkah yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan dan memicu konflik besar yang berdampak pada banyak negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *