Eropa Memanas! Macron Kecam Keras Ancaman Tarif Trump Demi Kuasai Greenland: “Kami Siap Melawan”
PARIS/WASHINGTON, kilasanberita.id – Hubungan diplomatik transatlantik kembali berada di titik didih pada awal tahun 2026 ini. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara terbuka melemparkan kecaman keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait polemik ambisi AS untuk menguasai Greenland.
Ketegangan ini bermula dari ultimatum mengejutkan yang dikeluarkan Trump: Jika Denmark (sebagai pemegang kedaulatan Greenland) menolak negosiasi penjualan wilayah tersebut, maka AS akan menjatuhkan tarif impor selangit terhadap produk-produk Uni Eropa.
“Ini Bukan Cara Sekutu Bekerja”
Dalam konferensi pers terbarunya, Macron menyebut taktik yang digunakan Trump sebagai bentuk “pemerasan ekonomi” yang tidak dapat diterima dalam hubungan antar-negara sahabat.
“Kami menghormati Amerika sebagai sekutu strategis. Namun, mengancam ekonomi seluruh benua hanya karena keinginan teritorial sepihak terhadap wilayah berdaulat Eropa (Greenland) adalah tindakan yang melampaui batas,” tegas Macron dengan nada tinggi.
Macron menegaskan solidaritas penuh Prancis dan Uni Eropa terhadap Denmark. Ia menyatakan bahwa Greenland bukanlah komoditas properti yang bisa diperjualbelikan di bawah ancaman sanksi dagang.
Eropa Siapkan Balasan Telak
Ancaman tarif dari Washington tentu membuat pasar Eropa bergejolak. Namun, Macron memastikan bahwa Benua Biru tidak akan tinggal diam. Jika Trump benar-benar merealisasikan kenaikan tarif impor tersebut, Uni Eropa siap merespons dengan langkah yang sama kuatnya.
“Eropa akan merespons. Kami memiliki mekanisme pertahanan ekonomi. Jika perang dagang adalah yang diinginkan, kami siap menghadapinya demi menjaga kedaulatan anggota kami,” tambah Macron.
Ambisi Lama yang Kembali Membakar
Isu pembelian Greenland oleh AS sebenarnya bukan hal baru. Di masa jabatan sebelumnya, Trump pernah melontarkan ide ini namun ditanggapi sebagai lelucon. Kini, di periode keduanya, Trump tampaknya jauh lebih serius menjadikan pulau terbesar di dunia tersebut sebagai bagian dari strategi pertahanan Arktik Amerika, bahkan jika harus mengorbankan hubungan baik dengan Eropa.
Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Gedung Putih. Apakah Trump akan melunak, atau justru memicu perang dagang global jilid baru demi ambisi Arktiknya?
