Karhutla di Puulemo dan Baula Capai 121,68 Hektare, PT Vale Intensifkan Penanganan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Puulemo dan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, berdampak pada area seluas sekitar 121,68 hektare berdasarkan pemetaan sementara per 23 Oktober 2026. PT Vale Indonesia Tbk meningkatkan upaya penanganan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengendalikan api serta mencegah kebakaran meluas.
Kebakaran tersebut terjadi di sekitar kawasan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Berdasarkan data sementara, area terdampak di Puulemo mencapai 31,68 hektare, sedangkan kebakaran di Baula diperkirakan mencakup sekitar 90 hektare.
Penanganan di Puulemo dilakukan oleh tim Fire and Emergency Services (FES) PT Vale Indonesia bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sementara itu, upaya penanganan di Baula masih menghadapi kendala akses menuju titik kebakaran sehingga membutuhkan pemetaan jalur dan asesmen lapangan lebih lanjut.
Kondisi tersebut membuat koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan yang aman dan sesuai dengan situasi di lapangan.
Kebakaran di Puulemo dan Baula Berada di Area yang Berbeda
Berdasarkan pemetaan awal perusahaan, kebakaran di Puulemo mencakup 31,68 hektare yang berada di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PT Vale Indonesia.
Di lokasi tersebut, tim FES perusahaan bekerja sama dengan BPBD untuk melakukan penanganan kebakaran. Personel dikerahkan guna mengendalikan api sekaligus mengantisipasi kemungkinan penyebaran ke area sekitarnya.
Adapun kebakaran di Baula diperkirakan mencapai sekitar 90 hektare. Area terdampak mencakup wilayah IUPK serta Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).
Meski total area terdampak dari kedua lokasi diperkirakan mencapai 121,68 hektare, proses pemetaan dan pemantauan masih diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi kebakaran.
Perbedaan kondisi medan di kedua wilayah juga memengaruhi langkah penanganan. Puulemo telah ditangani bersama BPBD, sedangkan di Baula perusahaan masih menyiapkan akses yang memungkinkan petugas menjangkau titik api secara aman.
Akses Menuju Titik Api di Baula Menjadi Kendala
Head of Pomalaa Project PT Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan perusahaan terus mengerahkan sumber daya yang tersedia untuk mempercepat penanganan karhutla secara terkoordinasi.
Ia menjelaskan, tim FES tetap bekerja bersama BPBD untuk menangani kebakaran di Puulemo. Pada saat yang sama, persiapan penanganan di Baula dilakukan melalui pemetaan akses, identifikasi sumber air terdekat, asesmen lapangan, serta koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait.
Keterbatasan akses menuju lokasi menjadi salah satu tantangan utama di Baula. Kondisi tersebut membuat petugas perlu memastikan jalur yang dapat dilalui sebelum menentukan metode pemadaman yang tepat.
Untuk mendukung langkah itu, PT Vale berkoordinasi dengan tim eksplorasi guna mengidentifikasi jalur menuju titik kebakaran dan memetakan sumber air yang berpotensi digunakan.
Asesmen lapangan juga disiapkan agar petugas memperoleh informasi aktual mengenai kondisi medan dan perkembangan api. Hasil peninjauan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan strategi penanganan berikutnya.
Rifai menegaskan bahwa keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat tetap menjadi prioritas. Karena itu, setiap tindakan perlu mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan serta dilakukan melalui koordinasi yang kuat dengan pihak terkait.
PT Vale Siapkan Peralatan dan Opsi Sekat Bakar
Selain mengerahkan personel, PT Vale Indonesia menyiapkan dukungan peralatan dan tenaga tambahan apabila diperlukan untuk memperkuat penanganan kebakaran.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembuatan sekat bakar. Langkah ini bertujuan memutus kesinambungan bahan bakar berupa vegetasi sehingga dapat membantu menghambat perambatan api ke area lain.
Penerapan sekat bakar perlu mempertimbangkan kondisi lokasi, karakteristik vegetasi, serta hasil asesmen petugas. Dengan demikian, metode yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan risiko di lapangan.
Perusahaan juga melakukan pembaruan data secara berkala. Informasi yang dihimpun mencakup pemetaan wilayah terdampak, dokumentasi visual, dan pencatatan koordinat titik kebakaran.
Data tersebut digunakan untuk membantu pemantauan perkembangan karhutla serta mendukung pengambilan keputusan bersama pemerintah dan instansi terkait.
Selain itu, perusahaan mempertimbangkan kebutuhan dukungan tambahan mengingat luasnya area yang terdampak. Apabila penanganan melalui jalur darat tidak memungkinkan atau dinilai belum memadai, opsi dukungan udara dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil asesmen dan koordinasi dengan otoritas berwenang.
Koordinasi dengan BPBD dan Pemerintah Kabupaten Kolaka Diperkuat
Penanganan karhutla di Baula juga akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Pihak yang dilibatkan meliputi Satuan Tugas Penanganan Karhutla, BPBD, Pemerintah Kabupaten Kolaka, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan.
Kondisi kebakaran juga akan dilaporkan melalui sistem pemantauan karhutla Sipongi. Pelaporan ini menjadi bagian dari upaya memperbarui informasi dan memperkuat koordinasi penanganan di lapangan.
PT Vale mendorong adanya dukungan tambahan dari unsur terkait untuk memperkuat kapasitas petugas, terutama dalam menghadapi kondisi medan dan potensi perkembangan kebakaran.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar penentuan langkah penanganan dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lebih lengkap. Koordinasi juga membantu menyelaraskan kebutuhan personel, peralatan, akses, dan sumber air yang diperlukan untuk mendukung pemadaman.
Di tengah upaya tersebut, perkembangan luas area terdampak tetap perlu dipantau. Angka 121,68 hektare merupakan estimasi berdasarkan pemetaan sementara, bukan pernyataan bahwa seluruh titik api telah berhasil dipadamkan.
Keselamatan Menjadi Prioritas dalam Penanganan Karhutla
Karhutla di Puulemo dan Baula menjadi tantangan bagi petugas karena luas area terdampak dan kondisi akses menuju sejumlah titik kebakaran. Penanganan membutuhkan kombinasi pemadaman langsung, pemetaan wilayah, ketersediaan sumber air, dan koordinasi lintas instansi.
PT Vale Indonesia menyatakan akan terus menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan perkembangan di lapangan. Keselamatan masyarakat dan petugas tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode yang akan digunakan.
Di sisi lain, keterlibatan BPBD dan pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat respons terhadap kebakaran di sekitar kawasan IGP Pomalaa. Pemantauan berkala juga diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi dan menentukan kebutuhan tambahan jika api berpotensi meluas.
Hingga 23 Oktober 2026, penanganan kebakaran di Puulemo telah berlangsung bersama BPBD, sedangkan upaya di Baula masih membutuhkan persiapan akses dan asesmen lanjutan. Penyebab kebakaran dan besaran kerugian belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kondisi aktual di lapangan serta hasil koordinasi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan instansi penanganan karhutla.

